Catatan Personal : Buku The Whole Brain Child

Tujuan utama dari menulis catatan pribadi dari buku yang saya baca yakni agar ilmunya lebih menempel di kepala. Kalau hanya sekedar membaca, saya gampang lupa. Namun dengan menulis kembali dan mereproduksi isi buku dengan bahasa saya sendiri memudahkan saya untuk mengingat poin-poin penting yang ada. Semoga catatan ini juga bermanfaat bagi yang membaca artikel saya. Akan tetapi saya tetap merekomendasikan membaca sendiri buku-buku yang saya ulas karena pastinya ringkasan dari saya tak bisa merangkum semua ilmu yang ada dalam buku tersebut dengan komprehensif. Tentunya yang non-instan akan lebih baik daripada yang instan. Jika pembaca artikel jadi semakin penasaran dengan buku yang saya ulas dan memutuskan untuk membaca sendiri buku tersebut dari awal hingga akhir, berarti tujuan utama dari rangkuman buku yang saya tulis tercapai. Semoga ulasan saya ini cukup menarik minat membaca teman-teman ya!

Buku ini saya pilih karena masih memiliki tema yang sama dengan buku Brain Rules for Baby yang saya baca sebelumnya. Titik fokus pembahasan lebih ke penyesuaian pola asuh terhadap tahapan perkembangan otak anak sesuai umurnya. Buku yang terdiri dari 153 halaman ini menggunakan bahasa yang ringan untuk dibaca serta beberapa ilustrasi gambar untuk memudahkan pemahaman dengan membandingkan dua kondisi yang berbeda dalam merespon anak (instead of this response… you could try this response…). Pada bagian awal buku ini membahas mengenai 4 bagian otak anak yang masih belum terkoneksi dengan baik bahkan hingga usianya 20 tahun kelak. Hal ini cukup menjelaskan mengapa pada remaja meski bisa dibilang usianya cukup matang namun tetap masih melakukan hal-hal konyol, impulsif dan kadang berbahaya yang kita anggap mustahil ia masih dapat melakukannya mengingat usianya yang cukup matang. Untuk itulah buku ini di bab berikutnya mengajarkan apa yang terjadi di dalam otak dan bagaimana cara berkomunikasi yang tepat sehingga maksud dari ucapan kita dapat tersampaikan dengan baik.

Pada bagian ke-dua buku menjelaskan mengenai pembagian otak menjadi otak kanan dan kiri. Seperti kita sudah sering dengar, otak kanan berhubungan dengan hal emosional, kenangan, pengalaman dan perasaan. Sebaliknya otak kiri berhubungan dengan hal logis dan keteraturan. Pada 3 tahun pertamanya, sang anak akan lebih dominan menggunakan otak kanannya. Ketika sang anak mulai bertanya mengapa? hal ini menujukkan bahwa ia mulai menggunakan otak kirinya yakni membangun hubungan linear sebab akibat dan logika.

Tips yang dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan anak pada fase awal ini yakni connect with the right brain kemudian redirect with the left brain. Hal lain yang dapat dilakukan yakni Name it to tame it! Mengapa hal ini penting? pada dasarnya otak terbagi menjadi dua hemisphere dengan fungsi yang berbeda yakni untuk membantu kita memiliki harmoni. Keseimbangan yang tercipta di antara keduanya dapat membuat kita memiliki kendali, yakni tidak larut dalam emosi dan tetap dapat berpikir logis. Menggunakan hanya salah satu bagian otak ibarat berenang hanya dengan satu tangan. Sehingga begitu pula pola komunikasi yang harus dibangun. Tak hanya mengandalkan otak kiri misal memerintahkan sang anak jangan tantrum (karena secara logis kita berekspetasi anak kita dapat berpikir bahwa tantrum apalagi di tempat umum adalah hal memalukan), namun kita harus mengapresiasi terlebih dahulu emosi yang ia rasakan, lalu baru kita bantu ia untuk membangun logis dari otak kirinya.

Contoh sederhana yang diberikan dalam buku ini yakni saat sang anak terjatuh, biasanya orang tua mengatakan lain kali hati-hati. Tetapi ada langkah alternatif yang lebih baik yakni dengan mengatakan ‘Oh iya sakit ya nak. Tadi kamu lari kemudian tersandung ya? Kemudian sang anak harapannya dapat merespon ini secara logis dengan menceritakan runutan kejadian. Sang ibu dapat menutup percakapan dengan mengatakan ‘ya sekarang ibu datang sudah dielus lukanya, merasa baikan?’. Perhatikan pola komunikasi yang ada yakni membantu sang anak membangun metode berpikir logisnya, tak hanya berfokus pada hal emosional seperti rasa sakit saja. Diharapkan dengan demikian, hal ini menjadi sebuah kebiasaan sehingga ketika ia mengalami suatu kejadian emosional, otak kirinya pun dapat terpicu untuk berpikir logis secara berpadanan dalam harmoni.

Bagian ke-tiga buku membahas mengenai pembagian otak dari sisi atas dan bawah. Sisi bawah bertanggung jawab mengontrol fungsi dasar tubuh (pernapasan, berkedip), emosi, dan respon terhadap rangsangan. Sedangkan sisi atas bertanggung jawab untuk hal yang kompleks seperti kemampuan analisis, empati, dan moral. Hal penting yang harus dilakukan orang tua yakni membangun “tangga” untuk menghubungkan kedua bagian otak ini. Hal yang perlu digarisbawahi yakni pada anak, bagian otak atas ini masih dalam proses pembangunan sedangkan bagian otak bawahnya sudah terbangun secara sempurna. Pada bab ini menjelaskan satu bagian otak yang disebut dengan amygdala yang berfungsi memberi respon cepat terhadap suatu kejadian, bergerak sebelum berpikir. Bisa dikatakan respon dari amygdala pada otak bawah ini membajak fungsi otak atas. Pada anak-anak, bagian otak ini sangat sering digunakan sehingga menyebabkan ia banyak meluapkan emosinya tak terkontrol.

Pola komunikasi yang harus dilakukan orang tua mirip seperti poin pada bagian ke-dua yakni melatih anak untuk membangun tangga ke otak bagian atasnya sehingga ia dapat memiliki kontrol atas hal-hal emosional. Arahkan pembicaraan untuk membahas hubungan sebab akibat logis serta analisis sederhana. Salah satu teknik unik yang dapat dicoba saat anak mengeluarkan senjata tantrumnya yakni mengajak ia bergerak. Terdapat riset yang menunjukkan bahwa dengan bergerak dapat mengatur reaksi kimia pada otak agar anak dapat mengembalikan kontrol otaknya dan memfungsikan otak atas. Misalkan jika anak menolak memakai baju, ajaklah ia melakukan permainan misal dengan melompat untuk memakai celana ataupun permainan lainnya. Trik-trik lain banyak dijelaskan pada buku ini yang dapat menjadi inspirasi.

Bagian ke-empat buku membahas mengenai kenangan implisit dan eksplisit yang dapat menyebabkan sang anak memiliki ketakutan ataupun trauma terhadap sesuatu. Misal karena sang anak pernah hampir tenggelam mengakibatkan ia tak mau mengikuti les renang. Bab ini menjelaskan mengenai pola komunikasi untuk membicarakan pengalaman tersebut sehingga sang anak dapat mengatasi traumanya. Hal ini menjelaskan mengapa jika ke psikiater maka ia akan meminta kita untuk menceritakan kembali pengalaman buruk yang dialami, karena dengan mengingat pengalaman tersebut secara eksplisit, trauma implisit yang dialami dapat berkurang sedikit demi sedikit.

Setelah mengerti mengenai berbagai emosi yang ada dalam diri sang anak, ajaklah ia untuk mengenalinya. Hal ini yang dibahas pada bagian ke-lima. Tujuannya yakni mengajarkan pada sang anak bahkan banyak hal terjadi dalam dirinya, senang, sedih, marah, cinta, benci. Jadi ketika ia mengalami hal negatif, ia dapat menyadari bahwa ada hal menyenangkan lain yang ia miliki dan dapat mengalihkan fokusnya dari hal negatif tersebut. Tujuan utamanya yakni agar ia kelak juga dapat mengenali dan berinteraksi dengan baik terhadap emosi orang lain. Langkah awal yang dilakukan yakni mengenali diri sendiri sebelum mengenal orang lain. Misalkan ketika ia kecewa karena kucingnya merusak gambar yang ia buat, ajak ia mengingat saat bahagia ketika bermain dengan kucingnya, dan juga kenangan baik lainnya. Dengan demikian sang anak dapat menyadari mengenai kompleksitas perasaan terhadap suatu objek dan mengajarkannya untuk lebih berfokus pada hal positif.

Bagian terakhir buku ini membahas mengenai yang mungkin tersulit untuk diajarkan kepada seorang anak yakni berempati. Seringkali kita mendapati sang anak bersifat egois dan tidak memikirkan perasaan teman bermainnya. Bab ini membahas mengenai pola komunikasi yang dapat dilakukan dalam membangun kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Hal pertama yang dapat dilakukan orang tua agar sang anak dapat memiliki kepribadian yang hangat dan bersahabat yakni memulainya di rumah. Anak yang senantiasa berinteraksi secara hangat dan bersahabat dengan orang tuanya, akan terbiasa untuk memiliki perilaku yang sama saat berinteraksi dengan teman sebayanya. Kemudian meningkatkan pola komunikasi dengan tak hanya sekedar mengajak sang anak berpikir logis dari sisi dirinya, namun juga memasukkan sudut pandang ornag lain yang dapat ia pertimbangkan. Misalkan jika ia merebut mainan temannya, jangan hanya berkata tidak boleh, namun jelaskan juga mengapa kira-kira temannya sedih dan bagaiman jika ia berada di posisi temannya tersebut.

Pada bagian penutup buku ini, diberikan rangkuman mengenai whole-brain strategy untuk 3 kategori usia yakni 0-3 tahun, 3-6 tahun, dan juga 6-9 tahun yang dapat dicoba untuk dipraktikkan dalam berkomunikasi dengan anak. Sekali lagi perlu diingat bahwa yang kita hadapi adalah makhluk hidup dengan karakter yang berbeda-beda. Tentu tak ada satu cara yang dapat diterapkan secara general kepada semua anak dan kita harapkan hasilnya akan sama. Untuk itulah pentingnya meningatkan pengetahuan mengenai berbagai teknik yang dapat diterapkan serta paling sesuai dengan karakter anak kita. Buku ini dapat memberikan beberapa sudut pandang yang berguna serta contoh nyata penerapannya dalam kehidupan sehari-hari interaksi dengan sang anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.