Funin Chiryou – 3rd Trial (5 of 8)

Nota pembayaran setiap cycle yang saya simpan

Bulan Mei ini dimulai lagi lah ikhtiar kami untuk mendapatkan buah hati. Hati ini sudah cukup tangguh lagi untuk diajak berjuang. Semua pasrah dan ikhlas karena Allah. Sesuai obrolan sebelumnya, saya mengira kali ini dokter akan mengganti obat dengan obat merk lain dan juga meningkatkan dosis suntikan. Akan tetapi ternyata masih diresepkan jenis dan dosis yang sama dengan bulan lalu. Bertanyalah saya kapan akan disuntik, kemudian beliau bilang setelah obat ini habis.

Sebenarnya saya masih bertanya-tanya mengapa dosis yang diberikan sama. Bukankah dengan begitu akan mendapatkan hasil yang sama seperti bulan lalu? Tapi baiklah saya coba percaya saja dengan bu dokter. Setelah dosis obat Clomid 100 mg untuk 5 hari habis, saya kembali ke dokter. Seperti sudah diduga, belum ada folikel telur yang cukup besar. Kemudian diresepkan lagi dengan Clomid 50 mg untuk 5 hari. Baiklah sabar, sabar, percaya bahwa dokter sudah mempertimbangkan tahapan pengobatan ini.

Saya sempat bertanya mengapa ada penambahan dosis jika memang Clomid 100 mg kemarin belum berefek apapun. Akhirnya saya mencari tahu jurnal medis terkait dan jawabannya ada di sini. Secara singkat dari jurnal ini dijelaskan penelitian bahwa ditemukan hasil yang lebih baik (penurunan waktu yang diperlukan untuk dapat ovulasi dan juga meningkatkan tingkat keberhasilan ovulasi) pada pemberian obat Clomid berkelanjutan (dalam jurnal tersebut disebut dengan istilah stair-step protocol) jika dibandingkan dengan traditional protocol yakni pemberian obat Clomid hanya dalam jangka waktu 5 hari.

Setelah obat habis, saya kembali lagi ke dokter (Kalau membaca cerita saya pasti tahu berapa kali harus bolak balik dokter dalam ikhtiar ini, terkadang lelah, namun tetap harus semangat karena ini bagian dari ikhtiar yang dapat saya usahakan). Si folikel telur masih bandel juga. Dalam hati saya berkata ‘yaiyalah kan sama kaya bulan lalu. Kenapa masih dilakukan yang sama kalau hasil tidak sesuai harapan?’. Emosi cukup naik saat itu namun saya coba tahan. Kemudian seperti yang sudah-sudah, pengobatan dilanjutkan dengan suntikan.

Nah saat disuntik saya melihat obat yang diresepkan bukan Gonal-F. Melainkan HMG. Sebelumnya saya pernah disuntik obat ini dan hasilnya pun tak membahagiakan. Akhirnya saya memberanikan bertanya ke suster (Bahasa Jepang benar-benar diasah kali ini karena mau tak mau harus bisa menegosiasi) kenapa obat ini yang diberi, bukankah sudah pernah. Bukankah ini malah menjadi mundur lagi ke treatment sebelumnya, sedangkan saat menggunakan Gonal-F cukup baik efeknya? Suster akhirnya mengecek database dan mengiyakan memang kali ini obatnya diganti. Namun tak menjawab rasa penasaran saya. Setelah disuntik, saya keluar dengan muka kesal karena merasa klinik ini tidak cukup informatif kepada pasiennya.

Jadi sama juga kok setiap dokter juga ada karakter masing-masing. Tidak semuanya komunikatif dengan pasien. Apalagi sistem RS di Jepang rata-rata menerapkan rotasi dokter, jadi hari apa yang kita pilih untuk konsul, dokter praktik hari itulah yang akan menangani. Salah satu tujuannya untuk memastikan tidak ada bias penilaian karena beberapa dokter menganalisis pasien yang sama. Tak lama si suster menghampiri kemudian megatakan obatnya diganti karena Gonal-F tidak terlalu berefek pada saya. Langsunglah saya jawab ‘loh HMG juga pernah saya pakai dan tidak berefek sebelumnya. Bukankah ini jadinya mundur lagi tahapannya?’. Kasihan sih susternya, jadi kena semprot. Tapi mungkin ini salah satu wujud frustasi saya yang merasa seolah progress yang sangat lambat dalam treatment selama 3 bulan ini (Manusia oh manusia memang harus banyak belajar sabar T-T)

Akhirnya suster menawarkan untuk ketemu lagi dengan bu dokter. Bu dokter hanya berkata singkat karena dosis obat minum kali ini berbeda, mungkin saja dampak obat suntik akan berbeda. Saya rasanya sudah habis kesabaran. Kenapa beliau tidak menjelaskan di awal akan mengganti obat. Sehingga saya bisa mengerti apa yang sedang saya jalani? Kebanyakan pasien bukankah merasa tidak nyaman jika hanya diberi obat tanpa tahu apa dan kenapa kondisi yang terjadi dalam tubuhnya.

Hati saya sudah sangat kesal. Meninggalkan ruang praktik dokter dengan wajah berlipat. Rasanya sangat kesal dan ingin pindah klinik agar dapat bertemu dokter yang kooperatif. Akhir minggu saya mendapat jadwal kontrol lagi dan kali ini suami dapat mendampingi. Sebelumnya sudah saya tuliskan pertanyaan yang mau saya tanyakan agar mendapat kejelasan mengenai kondisi saya saat ini. Pak suami membantu membenarkan beberapa grammar agar bahasa Jepang saya mudah dimengerti. Iya inilah salah satu tantangan teknis berobat di Jepang. Kebanyakan tidak bisa bahasa Inggris jadi harus berusaha berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Ada suatu saat saya belajar kosakata kedokteran dalam bahasa Jepang karena memang diperlukan untuk mengerti penjelasan dokter. Silver lining! Ini salah satu dari sekian banyak sisi positif yang bisa saya petik dari episode hidup saya ini. Yakni belajar bahasa Jepang dengan lebih giat lagi.

Beberapa istilah yang umumnya dipakai selama konsultasi saya di sini  yang mungkin bisa bermanfaat bagi teman-teman yang berniat berobat di Jepang:

  • 排卵       hairan                                   ovulasi
  • 卵胞                 ranpou                                 folikel telur
  • 卵胞の成熟 ranpou no seijyuku        pematangan sel telur
  • 支給                 shikyuu                               uterus
  • 支給内膜         shikyuunaimaku             endometrium
  • 下垂体             kasuitai                               kelenjar pituitari
  • 黄体期             outaiki                                 fase luteal
  • 発育                 hatsuiku                              development

Bu dokter kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Beliau akhirnya menjelaskan secara rinci mengapa hingga saat ini pengobatan tampak sedikit sekali peningkatan dosis dari segi obat. Beliau mengatakan hal ini bertujuan untuk menghindari resiko OHSS yakni kondisi ovarium yang over-stimulasi dan dapat berbahaya. Jika pada kebanyakan wanita akan mampu memilih satu telur untuk berovulasi setiap bulannya, pada saya berbeda karena justru ada beberapa yang tumbuh bersamaan sehingga sulit mencapai ukuran maksimal. Dampak pemberian obatpun sama, tubuh saya membagi dampaknya sama rata sehingga tidak ada satu telur yang dominan. Memang kuncinya harus sabar.

Hal di atas adalah salah satu ciri khas pada wanita dengan PCOS. PCOS adalah nama karakteristik yang saya miliki. Mengapa saya sebut dengan karakteristik? karena memang ini adalah karakter yang saya miliki dan tidak ada obatnya. Karakter ini akan menyertai seumur hidup saya. Yang dapat saya lakukan yakni mengontrol gaya hidup, pola makan, dan juga berolahraga agar dapat menekan faktor-faktor yang dapat memperburuk kondisi ovarium karena PCOS ini. Maka dari itu jika PCOS disebut penyakit pun kurang tepat. Kalau penyakit maka biasanya tentu ada obatnya, nah PCOS ini sendiri ditekan dominasinya dalam tubuh dengan cara-cara yang saya sebutkan sebelumnya. PCOS (polycystic ovary syndrome) atau sindrom ovarium polikistik merupakan kondisi terganggunya fungsi ovarium pada wanita yang berada di usia subur. Kondisi ini menyebabkan hormon wanita yang menderita PCOS menjadi tidak seimbang karena hal-hal yang tidak diketahui.

Tanda-tanda awal PCOS adalah masa ovulasi atau subur yang tidak beraturan, meningkatnya kadar hormon pria (androgen) dalam tubuh wanita, dan jumlah bakal folikel telur yang banyak dan kecil-kecil di ovarium. Jadi jika ada yang menyamakan dengan kista, sebenarnya istilah ini kurang tepat. Karena sebenarnya bulatan kecil yang terlihat saat USG di ovarium merupakan bakal folikel telur yang belum matang. Proses pematangannya memerlukan bantuan rangasangan obat hormon dari luar sehingga nantinya akan terdapat satu folikel telur yang matang.

Setelah beberapa kali dosis suntikan HMG, kali ini kembali hasil yang didapat sama seperti bulan-bulan sebelumnya yakni ukuran folikel telur belum mencapai ukuran minimal agar dapat ovulasi. Bagaimana perasaan saya? Sedihkah? Patah hati kah? Alhamdulillah saya bisa mengatakan bahwa kali ini rasa sedih dan patah hati sudah berkurang. Apalagi jika saya mengingat bulan puasa kemarin saya betul-betul vakum berolahraga dan juga asupan makanan manis mungkin sedikit lebih banyak dibanding bulan sebelumnya.

Inilah yang saya fokuskan untuk menyongsong siklus berikutnya: merutinkan olahraga, mengurangi asupan karbohidrat dan gula, dan menambah jumlah asupan sayur dan buah. Fokus utama yakni meningkatkan kualitas hidup dengan 3 langkah tadi. Hasil akhir tentu tak bisa saya kontrol, namun saya dapat mengontrol asupan gizi dan juga kualitas stamina diri. Harapannya dengan meningkatkan kedua hal tersebut, hasil akhir yang baik akan mengikuti. Teriring juga doa agar Allah mengabulkan keinginan hambaNya ini di waktu yang tepat, waktu yang terbaik.

Sebagai penutup siklus ini, ibu dokter memberikan obat minum untuk membantu menstruasi. Berbeda dari sebelumnya yang biasanya menggunakan obat suntik. Kali ini saya harus disiplin meminum obat 10 hari ke depan. Semoga siklus berikutnya mendapatkan peningkatan yang berarti. Fight!

Funin Chiryou – 2nd Trial (4 of 8)

Everyone wants to be happy, no one wants to be in pain. But you can not have a rainbow without any rain.

Akhirnya menstruasi yang ditunggu datang juga. Saya bersemangat karena artinya ini saatnya memulai kembali ikhtiar kami dari awal. Seperti biasa saat menstruasi datang, saya akan menelepon ke klinik untuk meminta jadwal konsultasi dalam rentang waktu 5 hari sejak haid pertama kali. Seperti biasa saat bertemu pertama kali di awal siklus menstruasi, dilakukan USG-TV untuk mengecek kondisi rahim. Iya betul, kamu tak salah baca, USG nya dilakukan saat menstruasi! Saya pun sebenarnya risih tapi ya namanya ikhtiar, apapun setia dijalani. Tabah. hehehe

Kondisi rahim baik, tak ada polip maupun kista. Pengecekan di setiap awal siklus sangat penting karena efek samping obat penyubur seperti clomid bisa menimbulkan terbentuknya jaringan kista dan polip. Dengan catatan, reaksi setiap orang akan berbeda-beda. Bagi wanita yang super sensitif terhadap obat clomid biasanya menemui hal ini. Jadi jangan takut, asal diawasi dengan ketat (yaitu USG-TV secara rutin) penggunaan obat clomid untuk meningkatkan peluang ovulasi tetap aman.

Kali ini dosis obat saya dinaikkan 2 kali lipat menjadi 100 mg. Diminum setelah makan pagi dan makan malam. Diminum mulai hari ke 5 hingga 9 setelah menstruasi pertama. Kali ini saya harus pulang ke Indonesia singkat, namun seharusnya jadwal kontrol yang biasanya 3 hari sekali menjadi terhambat. Akhirnya ibu dokter menganjurkan untuk cek saat hari ke 7 menstruasi. Kemudian segera kontrol setelah kembali ke Jepang. Semua berjalan normal. Efek samping obat clomid sama seperti sebelumnya saya alami yakni mimpi-mimpi aneh dan terbangun tengah malam karena kegerahan.

Setelah kembali lagi ke Jepang, saya segera kontrol. Saat itu adalah CD-14 (CD kepanjangannya Cycle Day yakni hari ke sekian dari pertama menstruasi). Kali ini hasilnya kurang memuaskan. Baru 1 cm ukuran sel telurnya. Idealnya ukuran folikel telur untuk dapat berovulasi yakni minimal 1,8 cm. Di sini pun saya jadi merasakan betapa banyaknya nikmat Allah yang tak saya sadari dalam tubuh saya yang belum saya syukuri. Saat saya mengharapkan pertumbuhan folikel telur 8 mm saja jika dipikir menggunakan logika, seujung jari bahkan bisa dibilang, namun masya Allah, 8 mm ini hanya Allah yang punya kuasa atasnya. Manusia memang makhluk yang lemah jadi memang tak punya hak untuk merasa sombong.

Saya juga sempat berkonsultasi bahwa saya mengalami spotting (terdapat bercak darah) satu kali. Ibu dokter mengatakan ini wajar sebagai efek samping obat clomid. Akhirnya diresepkan kembali obat clomid untuk saya minum 5 hari ke depan dengan dosis 50 mg. Dikarenakan sebelumnya suntikan HMG belum memberi respon sesuai yang diharapkan, kali ini diganti dengan suntikan Gonal-F untuk merangsang pembesaran sel telur. Dosis yang diberikan yakni 75 IU.

Saat disuntik di lengan kiri, rasanya yang ini berbeda, sakit ngilu sangat terasa. Sampai saya meringis di depan sunter yang menyuntik. Saat jarum masuk rasanya masih biasa saja karena jarumnya meski panjang namun tipis, saat obatnya mulai dimasukkan lah saat rasanya ngilu itu menjalar. Ya Allah, jadikan ini sebagai ladang pahala dari kesabaran hamba. Itu saja yang saya ingat betul-betul agar tetap terus semangat meski semakin lama, semakin banyak suntikan yang harus dilalui dan bertambah nyeri. Setidaknya saya masih bisa memilih untuk disuntik di lengan. Saya takut kalau harus disuntik di bagian perut soalnya. Belum kuat hati. hehe. Alhamdulillah lagi masih disuntik oleh suster, kebanyakan saya baca di internet mengatakan mereka suntik sencara mandiri atau dibantu suami.

Setelah keluar klinik, rasanya ada nyeri di hati. Setelah keluar dari lift di gedung klinik, saya menuju sebuah pojokan pilar gedung. Menangis! Hanya itu yang bisa saya lakukan mungkin selama sekitar 5 menit. Setelah itu berusaha mengatur nafas agar tak begitu sesenggukan. Kalau saya bilang ketegaran itu datang begitu saja, pastinya itu mustahil. Ketegaran yang saya punyai adalah buah yang saya petik dari setiap kata ‘ayo bangkit’ yang saya gaungkan untuk diri sendiri di kala saya terpuruk oleh keadaan. Ketegaran itu adalah sebuah proses, semakin banyak keputusan untuk bangkit dan melawan keterpurukan dalam hidup, semakin tinggi pula benteng ketegaran yang saya miliki. Bismillah. Semoga semakin lama, Allah semakin menunjukkan secercah harapan dari tangan para dokter di klinik ini.

3 hari kemudian, saya kembali konsultasi. Ukuran sel telur masih juga belum sesuai dengan yang diharapkan, akhirnya saya disuntik lagi dengan Gonal-F 75 iu. Nyeri nya tak tertahan sampai saya mengaduh di ruangan dokter lagi saat disuntik. Sepulang dari klinik rasanya sendu. Entah kenapa ada rasa sedih dan gundah di hati setelah suntik tadi. Sempat terbersit iri, ada yang begitu mudahnya hamil. Sedangkan saya, harus melalui berbagai obat dan suntik hingga saat ini. Tapi berkali-kali pula saya mencoba melawan pikiran negatif ini. Cobaan ini pasti Allah beri karena Allah tahu saya mampu melewatinya. Banyak hikmah yang bisa dipetik, salah satunya bisa berbagi informasi dan pengalaman dengan sahabat seperjuangan melalui tulisan ini. Allah adalah perencana terbaik, pemberi rezeki yang terbaik. Kita tak akan pernah menyamai kesempurnaan rencana Allah. Maka dari itu saya menguatkan hati untuk terus bersabar, semoga Allah mengampuni kekhilafan dengan rasa sakit yang harus dilalui dalam proses ini dan memberikan kekuatan untuk saya. Ya Allah, terima kasih sudah sangat perhatian dengan hambaMu ini, semoga dengan jalan hidup ini, bisa meningkatkan kedekatan hamba denganMu.

Saya bersyukur, ada Allah untuk saya. Sebesar apapun persoalan, saya selalu memiliki Allah untuk mengadu. Allah yang menjadi pegangan dalam hidup ini. Saya yakin, Allah ingin banyak memberi pelajaran hidup bagi saya agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Mengajarkan saya rasa syukur, dengan adanya banyak waktu berdua dengan suami, saya bisa memiliki waktu untuk lebih memahami dan menyadari betapa beruntungnya Allah mentakdirkan kami berjodoh di dunia dan semoga hingga ke akhirat.

Satu kalimat yang selalu menjadi pemacu semangat bagi saya yang diberikan oleh suami yakni: “Hasil akhirnya tak perlu dipikirkan, asal kamu terus berjuang (menjaga makanan dan rajin berolahraga), itu sudah cukup buat aku”. Alhamdulillah di tengah tekanan kanan, kiri, atas dan bawah, suami merupakan benteng pertahanan terkokoh yang saya miliki saat itu. Saya tidak merasa berjuang sendirian, suami selalu ada untuk mendukung saya. Allah sudah kirimkan malaikat-malaikat sebagai penyemangat dalam perjuangan ini. Allah Maha Baik. Bagi para suami, dukunglah istrimu yang sedang berjuang ya! Satu kata tetap semangat sangatlah berarti untuk terus menyalakan semangat berjuang dalam dirinya. Tak perlu satu keluarga besar yang mendukung. Satu orang teman hidup yakni suami yang sangat supportive sudah lebih dari cukup bagi seorang istri pejuang buah hati.

Beberapa hari setelah suntikan terakhir, saya kembali datang ke klinik untuk mengecek pertumbuhan folikel telur. Hasilnya cukup baik. kali ini sudah mencapai 13 mm. ketebalan rahim pun mencapai 5 mm. Kali ini disuntik kembali dengan dosis Gonal F 150 IU. Kali ini saya memberanikan diri meminta suster untuk menyuntik di perut. Alhamdulillah ternyata tidak terlalu sakit dibandingkan suntikan di lengan. Mungkin karena perut saya banyak lemak ;p Suster mengatakan beberapa hari lagi akan dicek kandungan level estradiol tubuh untuk melihat kapan kira-kira ovulasi terjadi. Saya cukup senang dengan perkembangan ini. Sejauh ini, inilah kondisi folikel telur terbaik saya.

3 hari kemudian saya kembali ke klinik. Terselip doa agar kali ini semoga pertumbuhan folikel telur membaik. Ternyata di luar ekspektasi saya, sel telur hanya tumbuh 1 mm. Ketebalan endometrium pun belum ideal untuk implantasi embrio. Akhirnya siklus kali ini dianulir. Bubarlah semua harapan saya setelah sebelumnya sempat berkespektasi hasil yang baik di siklus kali ini. Patah hati rasanya! Saya disuntik lagi dengan progesteron untuk memancing haid kemudian setelah haid datang, akan dimulai lagi siklus baru.

Sebenarnya memang saya yang salah saat mulai berkespektasi dalam proses ini. Berujung pada sakit hati dan saya menangis seharian. Semua rasa saya tumpahkan hari itu. Selama ini semua masih saya tahan dalam hati, namun kejadian ini benar-benar merobohkan kekuatan yang coba saya bangun. Setelah semua emosi saya luapkan, saya mulai menata hati kembali, memupuk semangat untuk tetap terus  berjuang. Jadi tak mengapa jika memang meluapkan perasaan dengan menangis jika memang bisa membuat lebih lega. Namanya juga kita manusia yang punya hati. Yang penting tidak larut dalam kesedihan dan berputus asa untuk berikhtiar. Banyak-banyak berprasangka baik dengan Allah. Meyakini Allah akan memberi di waktu yang terbaik. Ramadhan pun akan segera tiba, saya yakin Allah ingin saya bisa memaksimalkan Ramadhan untuk mendekat dengan-Nya. Lebih giat lagi berdoa dan beribadah. Semua ini akan ada akhir yang manis, nanti 🙂

Funin Chiryou – Diagnosa PCOS (3 of 8)

Melanjutkan kisah sebelumnya, akhirnya tibalah waktu untuk berkonsultasi di klinik yang baru. Setelah mengecek jadwal praktek dokter, ternyata di klinik ini terdapat dokter wanita. Sudah makin semangat, setidaknya tak perlu canggung untuk semisal diperlukan pemeriksaan USG Trans-Vaginal (USG TV). Ketika masuk ke klinik, suasana cukup ramai. Ternyata banyak juga orang Jepang yang datang ke klinik ini. Jadwal praktek untuk hari ini hanya ada dokter wanita, jadi tak perlu berpesan ke bagian registrasi untuk meminta jadwal konsultasi dengan dokter wanita pikir saya.

Ketika nomor registrasi saya ditampilkan di layar, kemudian saya dan suami menemui dokter di ruangan yang tersedia. Taraaa! ternyata yang duduk di sana adalah dokter laki-laki. Wah langsung kacau pikiran saya. Ternyata jadwal praktek dokter yang tertera di web dapat berubah sewaktu-waktu. Akhirnya yasudah karena baru pertama, kami pikir paling hanya mengobrol terlebih dahulu menceritakan riwayat di klinik sebelumnya.

Setelah meneliti dokumen lampiran dari klinik sebelumnya, dokter kemudian menjelaskan kepada kami bagaimana ekspektasi tahapan pemeriksaan yang nantinya akan kami jalani. Beliau penjelasannya sangat detail, bahkan juga menggambar organ reproduksi wanita serta menjelaskan proses pembuahan. Beliau menjelaskan bahwa tahapan pemerikasaan akan dilakukan bertahap. Tahapan awal akan dicoba dengan pembuahan alami, jika beberapa siklus belum berhasil, maka akan dicek saluran telur apakah ada sumbatan atau tidak. Kemudian jika ditemukan sperma suami bermasalah, akan juga dilakukan pengobatan, namun bisa juga diatasi dengan inseminasi buatan. Intinya dari penjelasan dokter adalah keputusan untuk melakukan bayi tabung masih sangat jauh melihat kondisi kami yang masih berusia muda dan juga tidak ada banyak komplikasi. Jadi sealamiah mungkin akan diusahakan.

Berhubung tanggal ovulasi kemungkinan sudah terlewat, maka dokter memutuskan untuk memberikan suntikan progesteron untuk merangsang menstruasi (yang merinding dengar kata suntik, semoga kuat ya. Akan banyak sekali kata suntik di kisah saya. hehehe). Nantinya setelah menstruasi datang, dalam tempo 5 hari selama masa menstruasi maka saya diharuskan menelepon klinik untuk membuat janji konsultasi. Saya juga diambil sampel darah sebanyak 1 tabung untuk dilakukan pengecekan hormon (LH, FSH, Tiroid, Prolaktin, Estradiol, dan Testosteron).

Tak hanya itu, suami juga diarahkan untuk dicek sampel spermanya. Hal yang lumrah mengingat dalam usaha memiliki buah hati, dibutuhkan kerjasama dua belah pihak. Cuma memang berhubung yang mengandung adalah wanita, kebanyakan orang kalau bertanya akan ke pihak wanita ‘kapan hamil?’, ‘sudah isi?’. Iya, pertanyaan yang terkadang bisa ditanggapi dengan cengegesan sambil bercanda maupun juga ditanggapi dengan keinginan memberi kepalan tinju (galak mode on). hahaha

Akhirnya setelah menstruasi datang, saya mencocokkan jadwal bersama suami agar bisa ke klinik bersama. Alhamdulillah bisa dapat waktu yang cocok. Oya ada kebijakan klinik yang cukup unik, jadi beberapa check-up tidak ditanggung oleh asuransi nasional di Jepang, akibatnya pemeriksaan tersebut tidak dapat dilakukan di hari yang sama jika kita juga melakukan check-up yang dicover asuransi. Akhirnya hari itu yang bisa dilakukan hari itu yakni pengecekan kualitas sperma suami saja. Alhamdulillah hasilnya baik. Tidak ada catatan khusus dari dokter. Dengan kata lain, ke depannya yang perlu datang ke klinik hanya saya saja. Minta dukungannya ya pak suami! ^^

Nah saat konsul dengan dokter, dilakukan USG TV untuk memonitor kondisi rahim sebelum treatment trial yang pertama ini. Hasilnya baik. Kemudian kami membahas hasil pengecekan kadar hormon saya yang lalu. Hasilnya kadar LH saya terlalu tinggi, hampir 2 kali FSH. Kadar Estradiol juga tinggi. Testosteron juga tinggi (melihat ciri fisik saya yang ada kumis tipis dan lebih banyak rambut di tubuh dibanding teman wanita lain, saya sih tidak kaget dengan hasil ini). Prolaktin juga tinggi. Tampaknya banyak PR terkait keseimbangan hormon saya. Semua ciri-ciri di atas adalah umumnya ciri PCOS (Polycystic Ovary Syndrome). Info lengkapnya saya tulis di artikel selanjutnya. Sementara yuk googling dulu. Biar jadi pembaca proaktif ^^ hehe. Akhirnya kali ini diresepkan Clomid 50 mg diminum pada hari ke 5-9 untuk merangsang perkembangan sel telur. Kemudian nanti akan terus dimonitor perkembangannya.

Oya apabila diberi obat perangsang ovulasi, wajib meminta dokter untuk memonitor secara ketat ya! Mengapa? Karena reaksi setiap orang terhadap obat ini berbeda-beda. Jika reaksinya berlebihan maka dapat terjadi OHSS. Yakni ovarium yang membengkak, bahkan bisa hingga sebesar kepalan tangan akibat terlalu banyak folikel telur yang membesar dari hasil rangsangan obat. Akibatnya tidak main-main, bisa kehilangan nyawa. Maka dari itu penting sekali dalam promil ini berkonsultasi rutin dengan ginekolog terpercaya.

Keesokan harinya saya kembali ke klinik untuk mengambil sampel darah kurang lebih 3 tabung. Nah pemeriksaan kali ini tidak dicover asuransi karena bukan merupakan penyakit (sistem kebijakan asuransi di Jepang memang seperti ini). Melainkan pemeriksaan sebagai inisiatif dari diri sendiri untuk fertility treatment. Lumayan juga biayanya ternyata. Pemeriksaan terkait yakni HIV, Clamidia, Rubella, dan beberapa lainnya yang saya kurang ingat. Suami juga mengambil tes ini. Tujuannya yakni memastikan dalam treatment ini, kedua calon orang tua tidak membawa penyakit yang dapat ditularkan ke bakal janin. Kami juga diharuskan menunjukkan buku nikah karena di Jepang memang tidak mengenal istilah donor sperma maupun folikel telur seperti di Amerika dan Eropa.

Hasilnya dari obat Clomid yang saya minum kurang memuaskan, akhirnya dokter meresepkan lagi untuk obat yang sama dengan dosis yang sama yakni 50 mg untuk diminum hari ke 6 hingga 10 dari haid hari pertama. Saya juga diberi suntikan HMG sebanyak 75 IU untuk meningkatkan rangsangan pertumbuhan sel telur. Selama memonitor perkembangan sel telur ini, saya diharuskan bolak balik ke klinik. Jika ditotal ada sekitar 5 kali saya bolak balik. Hasilnya setelah suntikan HMG pertama pun ternyata kurang memuaskan sehingga dokter memutuskan untuk disuntikkan lagi hormon HMG dengan dosis 150IU. Sayangnya sampai si obat Clomid habis pun, sel telur tidak mencapai ukuran maksimal. Hanya 2 sel telur dengan ukuran sekitar 9 mm di ovarium kiri dan kanan. Ukuran yang diharapkan minimal yakni 17 mm.

Sedih? pastinya. Tapi lagi-lagi harus mampu menata hati. Sejak awalpun saya menyadari ini bagian dari ikhtiar kami. Jatah kami ya ikhtiar. Hasilnya sesuai dengan kehendak Allah karena memang anak adalah hak prerogatif Allah. Menjalani treatment di klinik ini pun memang harus siap mental dengan perjalanan naik turunnya seperti roller coaster. Siap dengan segala resikonya. Sebelum membayangkan akhirnya memiliki buah hati, saya pun sudah menanta hati agar siap dengan segala cobaan yang mungkin akan datang bertubi-tubi. Intinya siap berbuah manis, namun juga siapkan hati dan mental baja untuk berjuang! Yang terpenting, setiap kali jatuh, saya harus bangkit lagi. Jatuh 7 kali, bangkit 8 kali. Bukan tidak pernah jatuh yang membuat kita kuat, tapi tetap bangkit setiap kali jatuh-lah yang sebenarnya menguatkan kita!

Mungkin Allah ingin agar anak saya kelak menjadi anak yang tangguh dan teguh hatinya, dan dari siapa lagi hal itu dapat diajarkan kalau bukan dari orang tua yang tangguh pula. Semuanya akan datang di waktu yang tepat. Yang terpenting kami terus berikhtiar dan berdoa merayu Allah, dan juga terus memperbaiki diri agar dapat menjadi orang tua yang terbaik bagi anak kami kelak.

Akhirnya dokter memutuskan untuk kembali menyuntik progesteron untuk merangsang menstruasi. Beliau juga mengatakan dengan kondisi telur seperti sekarang, saya kemungkinan tidak akan ovulasi bulan ini, maka diperlukan suntikan progesteron ini agar menstruasi segera datang. Beliau juga meminta saya cek darah untuk tes HOMA-IR. Tes ini ditujukan untuk mengecek resistensi insulin dalam tubuh karena dimungkinan pasien dengan riwayat diabetes dapat turut menghambat jalannya organ reproduksi dengan optimal. Saya cukup kaget karena tak ada riwayat diabetes sebelumnya. Namun setelah membaca beberapa jurnal kedokteran (Oya ini salah satu poin penting yakni carilah info yang valid di internet bukan hanya bermodal katanya-katanya. Carilah sumber informasi yang menyertakan artikel jurnal medis, penelitian, maupun publikasi dari lembaga kredibel dan terpercaya), saya ketahui untuk diabetes tipe 2, dapat muncul tanpa adanya warisan gen dari orang tua.

Hasil tes HOMA-IR saya menunjukkan gula darah berada pada level normal bahkan cenderung rendah. Jadi dugaan adanya diabetes tipe-2 yang menghambat regulasi hormon dapat dianulir. Jadi tak perlu meminum obat untuk gula darah seperti metformin dan sejenisnya. Oya saya juga perlu menambahkan saya termasuk berberat badan dengan BMI ideal, umumnya orang berasumsi PCOS hanya terjadi pada wanita yang cenderung memiliki BMI overweight, jawabannya tidak selalu loh sebenarnya!

Oya beberapa info baik dari teman maupun selebgram seperti Mesty Ariotedjo dan Alanda Kariza yang kisahnya dengan PCOS pernah saya baca mengatakan karena adanya ketidakstabilan hormon bagi penderita PCOS, maka biasanya dokter akan meresepkan obat pil KB di 3 bulan pertama untuk membantu menstabilkan hormon di dalam tubuh. Baru kemudian akan ditreatment dengan menggunakan obat perangsang pertumbuhan sel telur. Kebetulan selama 2,5 tahun sebelumnya saya sudah melakukan hal yang sama, jadi treatment dari dokter saya bisa langsung dilanjutkan dengan tahap selanjutnya yakni pemberian obat perangsang pertumbuhan sel telur seperti Clomid.

Demikian akhir dari percobaan pertama kami. Perjalanan masih panjang, kami senantiasa berharap agar Allah memberikan karunianya di waktu yang terbaik. Semoga juga dengan wujud perhatian Allah pada kami ini dapat memacu kami agar semakin giat beribadah dan memperbaiki amalan-amalan kami, istilah lainnya, ujian agar naik kelas. Saya paling suka saat mendengar ceramah Ustadz Adi Hidayat di Youtube, beliau sempat mengatakan : ‘kadang kita sebagai mahluk sampai putus asa dan mengatakan Ya Allah kenapa saya yang engkau timpakan cobaan ini?’ dan kemudian beliau mengatakan : ‘dan Allah hanya berkata mengapa tidak?’.

Memang sebagai mahluk kita terkadang lupa. Ingin mengurus bagian yang bukan jatahnya. Ingin ikut campur dalam urusan hasil akhir, padahal jatah kita hanyalah berikhtiar. Dalam Al-Quran juga dikatakan:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan Salat; sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. 2: 154).

Allah meminta kita untuk sabar dan salat, bukan mencari-cari penyelesaian. Hal ini menunjukkan dalam setiap cobaan, kita harus memperbanyak sabar dan salat agar Allah membantu kita memberikan penyelesaian bagi persoalan yang kita hadapi. Jadi mari terus berikhtiar, bersabar, dan menambah amalan baik yang wajib maupun sunnah. Semoga Allah ridho akan ikhtiar kami. Amin

Funin Chiryou – Berpindah Klinik (2 of 8)

Nah menyambung kisah sebelumnya dimana saya diresepkan dokter untuk meminum clomid yang bertujuan membantu pematangan folikel telur, akhirnya sesuai yang disarankan pada rentang waktu hari ke 11-14 HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) saya konsultasi kembali ke dokter. Seperti biasa saya menemui ibu dokter dengan sebelumnya menyetorkan pr catatan suhu basal tubuh saya.

Suhu basal tubuh apa sih? Secara singkat suhu basal tubuh yakni suhu terendah tubuh dalam satu hari. Diukur saat bangun di pagi hari, sebelum memulai aktivitas apa-pun. Memakai termometer yang biasanya dimasukkan ke bawah lidah. Pada keadaan normal, suhu tubuh akan turun ke suhu terendah dari rata-rata suhu harian saat terjadi ovulasi. Bagi yang haid teratur, suhu basal sangat manjur untuk menghitung masa subur.

Melihat catatan suhu tubuh saya, bu dokter tidak mengatakan apa-apa kemudian langsung diperintahkan untuk USG TV (TransVaginal). Nah saat USG TV terlihatlah oleh saya bakal-bakal folikel telur yang memang cantik bulat menul-menul namun beliau mengatakan nampaknya belum akan matang. Kemudian bu dokter mengukur sesuatu di rahim saya. Selesai USG TV, kemudian bu dokter menjelaskan hasilnya.

Hasil USG TV menunjukkan obat bereaksi untuk mendorong adanya folikel telur yang matang, akan tetapi nampaknya dosisnya masih kurang. Kemudian ada satu persoalan yang mengganjal. Dari hasil USG menunjukkan bahwa rahim saya masih tipis. Bu dokter menjelaskan ini bisa jadi efek samping meminum clomid. Sebagai info, ketebalan rahim ideal untuk dapat menjadi tempat menempel bakal embrio dengan baik yakni 8 mm dengan struktur tiga laminar atau 3 lapis.

Selain itu ada pula faktor pengaruh obat kb saya sebelumnya. Dalam artian efek dari pil KB belum sepenuhnya hilang dari tubuh saya jadi lingkungan dalam tubuh saya memang belum ideal untuk mendukung terjadinya kehamilan. Jadi dengan demikian, meskipun terdapat telur yang berhasil dibuahi, kemungkinan bakal embrio tersebut dapat menempel akan kecil karena rahim belum cukup tebal untuk sebagai tempat perlekatan bakal embrio.

Akhirnya bu dokter memberi beberapa brosur klinik fertilitas dan merujuk kami untuk memilih salah-satu dari klinik tersebut. Beberapa pertimbangannya yakni:

1. Usia saya dan suami masih muda (28 tahun dan 27 tahun). Kemungkinan untuk pemulihan jika memang ada permasalahan tertentu dalam program kami yang dapat menghambat masih besar. Sedini mungkin permasalahan tersebut ditangani, tentu akan lebih baik.

2. Klinik yang kami kunjungi sebetulnya adalah spesialis ibu dan anak (産婦人科 baca: sanfujinka) dan bukan spesialis untuk menangani masalah fertilitas (不妊治療 baca: funinchiryou). Jadi beliau tidak begitu yakin untuk meneruskan pengobatan di sana, dan langsung merujuk kami ke klinik spesialis fertilitas. Kalau di Indonesia bisa dibilang ibarat Rumah Sakit untuk Dokter SpOG dan SpOG (K.Fer) alias konsultan fertilitas dibedakan, nah seperti itulah sistem yang ada di Jepang. Tak perlu khawatir karena biayanya akan tetap dicover oleh asuransi Jepang alias hoken sebesar 70%. Jadi jangan ragu untuk berkonsultasi ke klinik spesialis fertilitas di Jepang karena semua obat dan biaya tes lab dicover oleh asuransi. Hanya ada beberapa obat dan tes lab yang tidak dicover.

Sempat patah hati sih. Tapi suami selalu mengingatkan kalau ini di luar kendali kami. Allah memberi cobaan pasti ada hikmahnya. Toh dia akan tetap setia mendukung saya, bersama-sama menghadapi perjalanan ini dengan saya. Yang perlu kami pikirkan hanya mencari info sebanyak mungkin, mengubah pola hidup agar lebih sehat, rutin berolahraga, dan berbagai kegiatan lain yang masih dalam kontrol kami. Jatahnya manusia itu ikhtiar! (saya ingat-ingat terus kalimat ini dalam hati, karena memang anak adalah hak prerogatif Allah).

Akhirnya pilihan kami jatuhkan ke klinik yang dekat rumah serta satu arah kereta dengan kantor suami untuk mempermudah mobilitas. Saya sempat membaca-baca bahwa di Jepang terdapat program subsidi untuk bayi tabung. Mulailah saya mencari-cari informasi di antara bejibun web bahasa Jepang yang ada. Akhirnya saya menemukan info yang saya cari, dan secara kebetulan klinik yang ingin kami kunjungi nanti ternyata ada di daftar klinik yang termasuk klinik rujukan di bawah kementerian kesehatan Jepang sehingga nantinya setelah program bayi tabung selesai (baik berhasil maupun tidak) maka terdapat uang subsidi yang dapat direimburse dan besarnya mencapai 350 ribu yen. Saya mencari info ini tujuannya untuk mempersiapkan kalau-kalau nanti memang jalan terakhir yang dapat kami tempuh hanyalah bayi tabung. Oya klinik ini juga ternyata memiliki dokter wanita. Alhamdulillah beruntun banyak informasi yang membulatkan tekad saya untuk melanjutkan konsultasi di klinik tersebut.

Segeralah kami bersiap untuk melanjutkan kunjungan ke klinik tersebut. Setelah memesan jadwal melalui internet, diputuskan 1 minggu lagi kami akan konsultasi ke klinik tersebut. Bismillah! Allah tampaknya sangat perhatian dengan diri saya. Disayang terus agar selalu ingat dan dekat, meminta dengan merayu dan merintih dalam tangis berkhalwat dengan-Nya. Saya percaya Allah akan mengijabah ikhtiar ini di waktu yang terbaik. Amin

Funin Chiryou – Pengalaman Konsultasi di Jepang (1 of 8)

Bismillahirrohmanirrohim

Sempat maju mundur sebelum akhirnya menuliskan catatan perjalanan kami dalam berikhtiar mendapatkan keturunan ini. Setelah mempertimbangkan positif serta negatifnya, saya putuskan untuk mempublikasikan catatan ini untuk umum. Berawal dari rasa senasib dengan para pejuang buah hati lainnya yang terkadang merasa terkucilkan di tengah komunitas. Rasa rendah diri yang pasti hadir karena merasa memiliki aib yakni kesulitan dalam memiliki buah hati.

Catatan ini saya bagikan karena saya ingin menyemangati teman seperjuangan lainnya! Perjuangan ini hadir bukanlah sebagai aib yang harus disembunyikan, sebaliknya perjuangan ini dipilih Allah spesial untuk kita karena Allah yakin kita masih punya stok kesabaran dan semangat berjuang di atas rata-rata. Tak perlu merasa ikhtiar promil dengan berkonsultasi ke dokter feritilitas sebagai sebuah aib, justru kita harus bangga sambil menepuk bahu diri sendiri karena kita mau berikhtiar lebih dalam menjemput karunia Allah. Membarengi niat ikhlas berikhtiar karena Allah dan menyebut permohonan akan karunia seorang anak dalam setiap doa adalah dua senjata utama yang dimiliki para pejuang buah hati. Catatan ini semoga juga bisa menambah informasi bagi para pejuang buah hati yang mungkin memiliki karakteristik sama dengan saya.

Kalau boleh jujur, pastinya di luar sana masih lebih banyak para pejuang buah hati yang jauh lebih tangguh dari saya. Jangka waktu berjuangnya lebih lama dan tentunya stok kekuatan berjuangnya pasti melebihi saya. Perjuangan saya bisa dikategorikan singkat. Hanya kurang lebih 1 tahun. Tapi percayalah, bukanlah waktu yang menjadi tolak ukur. Setiap rezeki tentunya sudah diatur kapan waktu terbaiknya oleh Allah. Yang penting fokusnya hanya satu: bisa terus naik kelas setiap ujian datang bertubi-tubi.

Beberapa catatan di seri berikutnya juga akan terselipkan beberapa curahan hati pribadi saya sendiri yang terkadang merasa perih hatinya dengan banyaknya pertanyaan ‘udah hamil belum?’ yang dialamatkan kepada saya yang mungkin bagi sebagian kalangan adalah pertanyaan basa-basi. Namun percayalah, untuk para pejuang buah hati, pertanyaan ini jika dilontarkan di saat sedang hampir putus asa berjuang, justru menambah kalut hati. Semoga dengan membaca curahan hati ini bisa meningkatkan empati untuk saling menjaga perasaan, khususnya sesama wanita.

Cukup prihatin juga dengan informasi yang beredar di internet dalam bahasa Indonesia terkait promil dengan segala mitosnya yang terkadang sampai membuat geleng-geleng. Ini juga menjadi alasan saya menulis blog ini dalam bahasa indonesia untuk menambah referensi informasi berdasarkan sumber-sumber yang ilmiah. Saya selipkan hasil diskusi saya dengan dokter saya disini dan juga intisari dari beberapa jurnal ilmiah yang saya baca.

Yuk kita mulai..

Sebelum menikah, saya dan suami sudah membahas dari A-Z visi kami masing-masing serta juga visi bersama yang kami harapkan. Salah satu topik yang dibahas tentu saja tentang kapan kami merencanakan untuk memiliki keturunan. Kesimpulan dari obrolan kami yakni kami sepakat menunda untuk urusan anak. Beberapa pertimbangannya:

  1. Kami mempunyai mimpi untuk berhaji dari Jepang, jika sudah memiliki anak tentu kami harus mengatur kembali target kami untuk berhaji. Saya pun sudah berniat jika sudah memiliki mahram alias bersuami, maka negara pertama yang ingin kami dapat kunjungi yakni Arab Saudi, tepatnya berkunjung ke Baitullah. Harapannya momen tersebut dapat menjadi batu pijakan kami untuk meluruskan niat dalam pernikahan yakni untuk beribadah kepada Allah. Selain itu berhaji juga adalah rukun Islam yang ke lima dan wajib ditunaikan jika sudah mampu, berdasarkan perencanaan finansial pun setelah kami hitung, jika kami mampu berhemat, tepat 1 tahun setelah kami menikah maka kami dapat melunasi ongkos naik haji dari Jepang.
  2. Saya masih ada 1 tahun lagi yang harus ditempuh agar dapat menyelesaikan program Master di Universitas Kobe. Amanat beasiswa dari pemerintah Jepang pun tentunya ingin dapat saya tunaikan dengan baik. Beban penelitian pun nampaknya belum sanggup saya emban dengan baik jika di saat yang bersamaan harus mengurus anak.
  3. Suami baru saja memulai status sebagai pekerja kantoran yang tentunya masih banyak hal yang harus dicapai di tahun-tahun awal karirnya. Selain itu beban kerja juga pastinya masih sangat banyak mengingat rutinitas baru ini tentunya perlu waktu untuk beradaptasi agar dapat berjalan dengan ritme yang tepat.
  4. Saya dan suami sama-sama memiliki prinsip bahwa masih banyak nilai-nilai kehidupan yang harus kami pelajari akan kami dapat menjadi orang yang ‘open-minded’, menghargai perbedaan, dan memiliki karakter yang kuat. Ketiganya dapat kami pelajari utamanya melalui mengunjungi tempat-tempat baru di belahan dunia lain. Beberapa negara kami masukkan sebagai target dalam beberapa tahun ke depan untuk dikunjungi.

Kami sepakat untuk menggunakan alat kontrasepsi berupa pil kb untuk program perencanaan keluarga kami. Pertimbangannya yakni pil kb dapat lebih mudah hilang dari tubuh efeknya sesaat setelah dihentikan pemakaiannya jika kami sudah merencanakan untuk memiliki anak. Saya pun mengambil keputusan ini setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan di Jepang. Yang perlu saya garis bawahi di sini adalah kepercayaan desas-desus terkait pil kb yang ingin saya luruskan berdasarkan pengalaman serta konsultasi saya ke dokter kandungan di sini yakni:

  1. Pil KB tidak membuat rahim kering. Mungkin kita mendengar dari ibu, tante maupun orang-orang di sekitar kita bahwa pil KB dapat memiliki efek samping untuk membuat rahim kering. Hal ini mungkin berlaku untuk pil KB zaman nenek kita dan ibu kita dulu. Pil-pil KB saat ini memiliki kandungan hormon yang telah disesuaikan sehingga apabila kita telah berhenti menggunakan, tak ada efek samping berkepanjangan apalagi terhadap rahim.
  2. Pil KB tidak bikin gemuk. Hal ini saya alami sendiri. Berat badan saya tidak berubah sedikitpun selama 2,5 tahun memakai pil KB. Nafsu makan saya tidak berubah banyak, dan kegiatan saya selama di Jepang memang membuat saya banyak berjalan kaki setiap harinya.
  3. Pil KB membutuhkan waktu untuk dapat hilang pengaruhnya dalam tubuh sehingga kita dapat hamil. Hal ini tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang membutuhkan waktu 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, bahkan hingga 1 tahun. Asal diikuti dengan pola hidup sehat, olahraga teratur, makan makanan bergizi, tentu hal ini tak perlu dikhawatirkan.

Akhir Agustus 2017 merupakan terakhir kalinya saya menggunakan Pil KB. Semua target kami yang saya sebutkan di awal Alhamdulillah sudah tercapai. Kami sama-sama merasa inilah saatnya untuk memulai fase hidup selanjutnya, insya Allah bersama anak-anak kami kelak. Sebelum minum pil KB, siklus menstruasi saya termasuk siklum panjang. Jadi yang umumnya 28-35 hari, kalau saya bisa sampai 50 hari. Sebelum mulai meminum Pil KB, saya sudah berkonsultasi terkait hal ini dan disimpukan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Hanya dokter berpesan jika menstruasi tak datang hingga 3 bulan, maka saya harus berkonsultasi lagi. Sejauh ini hal itu tak pernah terjadi jadi saya pun tak pernah ambil pusing.

Saya sudah mengantisipasi siklum menstruasi saya yang panjang jadi saat menstruasi tak kunjung datang hingga 30 hari kemudian, saya masih tidak ambil pusing. Saat memakai pil KB, siklus menstruasi saya menjadi sangat teratur. Namun sesuai dengan yang jurnal-jurnal yang saya baca, setelah penghentian pil KB, maka siklus menstruasi kita akan kembali seperti sebelum minum pil KB. Akhirnya setelah berdiskusi dengan suami, kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu, jadi kami memutuskan untuk ke dokter kandungan dalam mendukungan program kehamilan kami ini. Tujuannya tak lain untuk menambah pengetahuan dan juga salah satu ikhtiar yang dapat kami usahakan.

Akhirnya dokter pertama yang kami kunjungi di klinik dekat rumah meresepkan obat Provera diminum selama 10 hari dengan harapan 3-5 hari setelah itu saya akan menstruasi. Beliau sangat baik, ramah, penjelasannya sangat rinci. Beliau juga untuk mengatakan pastinya adalah hal yang wajar jika setelah berhenti meminum pil KB, siklus menstruasi berubah karena hormon-hormon masih tertinggal dan juga siklus hormon tubuh kita belum bangun seperti sedia kala. Yang penting tetap bergaya hidup sehat. Sesuai dengan ekspektasi, saya pun menstruasi 5 hari setelah obat ke 10 saya minum. Tidak ada indikasi apa-apa saat meminum obat tersebut.

Kemudian hari-hari berlalu seperti biasa dan kembali saya belum menstruasi. Kali ini kembali lagi ke ibu dokter klinik di dekat rumah. Kali ini Saya diresepkan obat yang berbeda. Namanya Premarin (berisikan hormon Estrogen) dan Duphaston (berisikan Dydrogesteron) sebanyak 12 pil masing-masing untuk 12 hari diminum bersamaan. Pil-pil ini bertujuan untuk merangsang badan saya agar dapat menstruasi. Kemudian hari ke 6-10 dari hari pertama menstruasi saya diresepkan obat Clomid (berisikan Clomiphene Citrate) bertujuan untuk merangsang pertumbuhan sel telur. Ibu dokter mengatakan ingin melihat reaksi badan saya terhadap obat ini. Ada kemungkinan obat ini dapat menyebabkan sel telur yang matang lebih dari satu jadi ada kemungkinan hamil kembar! Saya dan suami mengatakan siap. Double trouble, double happiness isn’t it? (atau malah triple, bahkan quad? hehe)

berlanjut ke kisah selanjutnya di sini

Mengatur Budget Pengeluaran Mingguan

Sebelumnya saya sudah menjelaskan mengenai prinsip dasar mengatur keuangan pribadi di postingan sebelumnya. Nah kali ini saya mau memberikan trik lain yang bisa dipakai untuk menyiasati pengaturan budget bulanan agar sesuai komitmen budgeting di awal.

Hal tersimpel yang bisa dilakukan yakni menulis catatan pengeluaran tersebut secara berkala misalnya secara mingguan. Dengan begitu pula kita dapat betul-betul mengerem hawa nafsu untuk berbelanja yang tidak sesuai budget karena kita tau berapa maksimal pengeluaran kita untuk minggu tersebut.

Berikut saya lampirkan tabelnya yang coba saya buat sendiri di sini.

Formula di dalam tabel tersebut sudah saya buat sedemikian rupa sehingga antar minggu ke 1 hingga minggu ke 4 saling bertautan. Semoga bermanfaat ^^

Dunia Tanpa Kata Kapan

Sewaktu saya masih berusia 7 tahun, saya sangat tak sabar menanti saat saya bisa menjadi orang dewasa. Bayangan saya kala itu menjadi dewasa berarti bebas melakukan apa saja. Tak perlu dimarahi karena menolak tidur siang (poin satu ini saya sangat menyesal, saat dewasa justru saat tidur siang adalah saat mewah yang jarang didapatkan), memilih kuliah di jurusan yang disukai (karena mempelajari semua subjek di masa sekolah adalah siksaan bagi saya), bebas makan apa saja yang saya sukai, dan segala kemandirian yang melekat pada diri manusia yang sudah mendapat cap ‘orang dewasa’.

Kemudian akhirnya masa yang saya nantikan tiba juga. Masa menjadi manusia seutuhnya dengan label ‘orang dewasa’. Bagi saya, masa menjadi orang dewasa dimulai ketika saya bekerja di rantau. Merasakan susah payanya mengais rejeki di kejamnya ibu kota. Hantaman demi hantaman datang mengikuti cap’orang dewasa’ yang akhirnya tiba masanya. Momen pertama yang mengajari saya menjadi orang dewasa yakni ketika saya sudah tidak kerasan bekerja di kantor pertama saya. Jam kerja yang tidak manusiawi dan kurangnya penghargaan atas performa adalah dua alasan mengapa saya memutuskan bahwa arah hidup saya harus sedikit berbelok dari jalur awal yang saya pilih. Menjadi dewasa berarti harus mampu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Kali ini tentu saya harus mampu tetap bertahan meskipun pekerjaan begitu menyebalkan sambil mencoba mencari peluang di tempat kerja lainnya. Kenapa? Tentu saja pantang bagi ‘orang dewasa’ untuk menjadi benalu bagi orang tuanya, kemandirian finansial adalah salah satu ciri kedewasaan yang saya punya, itu prinsip saya.

Alhamdulillah tak butuh waktu lama, kesempatan itu datang juga. Bahkan dari dua tempat kerja berbeda sekaligus. Pada saat inilah saya baru berkonsultasi dengan orang tua saya dalam mempertimbangkan pilihan terbaik. Momen ini adalah salah satu pembuktian bagi kedua orang tua saya bahwa saya bisa mengatasi masalah saya sendiri sebagai orang dewasa. Bukan hanya sekedar langsung berhenti dari pekerjaan yang menyebalkan untuk saya tanpa menyiapkan rencana lainnya.

Hidup saya kembali berada di persimpangan ketika tak terasa 2 tahun telah berlalu dari sejak kepindahan saya kerja. Ruang untuk saya terus mengembangkan kapasitas diri rasanya semakin terbatas. Mulailah masa pencarian untuk menggeser sedikit kemudi kapal perjalanan hidup saya. Untuk mencari pekerjaan baru lainnya rasanya saya sudah terlalu jenuh. Bersekolah kembali! Ide ini tercetus karena masih ada rasa penasaran saya akibat dahulu gagal lolos seleksi pertukaran mahasiswa ke Jepang. Ada satu ambisi yang belum tercapai yakni merasakan menjadi mahasiswa di kampus ternama di luar negeri.

Dimulailah perburuan beasiswa yang kisah lengkapnya bisa dibaca di sini. Akhirnya kemudi kapal kehidupan saya berbelok bahkan melanglang buana jauh hingga ke Jepang. Nah saat itulah dimulai perjalanan kata ‘kapan’ menghantui hidup saya yang dilontarkan orang-orang sekitar. Pertanyaan ‘kapan lulus?’ tak begitu meneror saya karena Alhamdulillah bisa lulus lebih cepat yakni 3,5 tahun. Kemudian berlanjut dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’ Alhamdulillah karena merantau ke Jepang, otomatis libur lebaran pun akan sulit mudik karena di Jepang tidak mengenal libur lebaran. Selamat lah saya dari teroran pertanyaan ini. hahaha

Selanjutnya pertanyaan berikutnya ‘kapan punya anak?’ yang hingga detik saya menulis saat ini hanya bisa saya jawab ‘doakan saja’. Sebetulnya teror pertanyaan itu tak begitu terasa karena saya masih berada di perantauan jauh. Namun justru sekalinya pertanyaan itu terlontar, ada rasa sedikit ngilu di hati. Wallahualam adalah mungkin jawaban terbaik karena sebagai orang yang beriman, tentu kita pernah diajarkan bahwa jodoh, rejeki, dan maut adalah di tangan Allah. Sebagai makhluk tugas kita hanyalah berikhtiar. Hasil akhirnya kita serahkan ke Allah karena Dia lah sebaik-baiknya yang mengatur kehidupan kita.

Bagi para penanya ‘kapan?’ ada baiknya mengingat bahwa pertanyaan yang dilontarkan tentu sama dengan kondisi jika setiap orang ditanya ‘kapan mati?’. Sebuah pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab karena memang tak ada yang tahu jawabannya. Daripada memberondong dengan pertanyaan basa-basi yang tak kita sadari dapat mengiris hati lawan bicara, ada baiknya mengangkat topik yang lebih berfaedah daripada meneliti catatan kehidupan orang lain dan menilai baik buruk layaknya malaikat Raqib dan Atid.

Apakah ada kepuasan tersendiri yang dicapai jika kita berhasil membuat lawan bicara mati kutu dengan pertanyaan kapan yang kemudian hanya bisa dibalas dengan senyuman getir? Apakah kita memang seharusnya membuat orang lain merasa hidupnya tak cukup bahagia sehingga perlu dibanding-bandingkan? Bagi saya jawabannya tidak. Setiap orang memiliki pertarungan dalam hidupnya masing-masing. Alur cerita, naik turunnya emosi serta kejutan-kejutannya spesifik. Dan pastinya sudah Allah atur yang terbaik!

Maka dari itulah saya senantiasa berusaha mengindari untuk melontarkan pertanyaan ‘kapan’. Setidaknya saya mengurangi populasi para pemburu jawaban akan pertanyaan ‘kapan’ bagi orang lain. Mengurangi kemungkinan tergoresnya hati satu orang yang pernah menjadi lawan bicara saya agar ia tetap optimis menatap kehidupannya yang memang sudah sempurna dengan segala keunikan perjalanannya. Bagaimana dengan kamu?

 

Pengalaman Pertama Makan Sushi dan Sashimi di Jepang

Selama ini saya hanya mampu melihat saja setiap mampir ke restoran sushi di Jakarta. Menu yang saya cobapun kebanyakan jenis fusion sushi yang jauh berbeda dari definisi sushi yang selama ini saya bayangkan. Pertama kali saat tiba di Jepang, ketika mencoba restoran sushi pertama kali, saya dibuat terkaget-kaget. Sushi di Jepang sangat polos! Bandingan dengan sushi dragon roll dari salah satu restoran sushi kenamaan di Jakarta misalnya yang bertabur mentai, saus, dan bumbu lainnya. Sushi di Jepang hanya polos, betul-betul yang ingin ditonjolkan yakni rasa asli dari masing-masing toppingnya.

Jenis restoran sushi di Jepang bermacam-macam. Mulai dari yang harga 100 yen per piring hingga Michelin Star pun ada. Saya? Tentunya lebih prefer mencoba yang 100 yen. banyak pilihan dan umumnya lebih tidak beresiko. Maksudnya? Kalau semakin mahal sebuah restoran sushi, umumnya bahan yang digunakan untuk membuat sushi akin nikmat menurut orang Jepang yakni mirin dan bahkan sake dicampurkan ke dalam nasi sushi. Nah kalau restoran yang murah meriah tentunya tidak memakai bahan aneh-aneh sehingga bisa dikatakan lebih muslim friendly ^-^

Restoran sushi langganan saya dan suami terletak hanya 1 stasiun dari rumah. namanya Kappa Sushi yang terletak di Mall Atre Kawasaki lantai 7. Kenapa memilih sushi chain ini? Pilihan menu sushi yang non-mentahnya banyak. Berbagai jenis tempura dan juga saus mayonaise beserta keju dan basil pun tersedia. Tidak akan kecewa kalau mencoba!

Nah berlanjut dengan pengalam mencoba sashimi. Intinya sashimi adalah berbahan dasara seafood mentah. Butuh keberanian ekstra hingga akhirnya saya berani mencoba. Alasan utamanya karena tak terbayang makan ikan emntah. Pasti eneg dan amis pikir saya. Akhirnya kesempatan mencoba sashimi datang saat pesta penyambutan mahasiswa baru di kampus saya. Kebetulan sensei saya pun senang makan sashimi jadi beliau sudah tahu restoran mana yang enak. Gigitan pertama saya langsung jatuh hati, Ternyata rasanya tidak amis sama sekali, rasa ikan sungguh gurih dan cenderung manis tipis di lidah. Kesegaran ikan nampaknya sangat berpengaruh terhadap kualitas daging. Jadi bagi yang belum pernah mencoba dan mendapat kesempatan mencobanyanya langsung di Jepang, dijamin tidak akan menyesal!

Musim Panas 2018 di Jepang yang Melelehkan Diri

source: Google

Judulnya dramatis ya? hehhee. Tapi sepanjang hampir 5 tahun saya di Jepang, musim panas tahun ini memang berbeda. Badan Meteorologi Jepang pun mengeluarkan peringatan akan bahaya heatwave tahun ini. Berita di televisi pun menayangnya suhu-suhu tertinggi sepanjang sejarah yang pernah dicatat terjadi di tahun ini. Bahkan Gion Matsuri yang merupakan festival tahunan terkenal di Kyoto pun terpaksa ditiadakan mengingat cuaca yang tidak kondusif dan rentan membawa banyak korban akibat suhu ekstrem jika tetap diselenggarakan.

Mungkin sebagai orang yang pernah tinggal di daerah khatulistiwa, membayangkan musim panas pastinya tak akan jauh berbeda dengan suhu di daerah khatulistiwa. Ternyata dugaan saya meleset. Yang membedakan yakni kelembaban udara. Suhu di khatulistiwa bisa jadi sama saja dengan musim panas di Jepang, namun kelembaban udaranya berbeda jauh. Beberapa waktu lalu kelembaban udara bahkan pernah mencapai 70%. Hal inilah yang rentan membuat banyak orang terkena heatwave.

Kelembaban udara yang tinggi membuat tubuh kita berkeringat sangat banyak. Akibatnya kemungkinan dehidrasi semakin tinggi. Untuk itulah dianjurkan sering-sering minum meski belum merasa haus. Hal ini bertujuan agar suhu badan dan cadangan air di dalam tubuh tetap aman terkendali.

Heat shock berbahaya loh bagi tubuh, bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedihnya kemarin sempat membaca seorang siswa kelas 2 SD meninggal setelah 3 jam berjemur di bawah terik matahari saat kegiatan di taman bersama teman-teman sekolahnya. Heat shock berbahaya terutama bagia anak-anak dan lansia karena mereka tidak banyak memiliki cadangan otot yang dapat menampung air. Maka dari itu penting sekali untuk memberi perhatian ekstra kepada anak-anak dan lansia dalam musim panas.

Musim panas kali ini membuat saya menyetok banyak es batu di kulkas rumah. Rasanya badan turut adem setelah minum minuman dingin. Es krim pun kali ini kami stok. Mandi? sering sekali! Saya memang tidak suka badan pliket dan lengket karena keringat, jadi apabila setelah bepergian dari luar, setelah mengademkan suhu tubuh sebentar, pasti saya langsung mandi. Pemanas air pun tak saya pakai, agar saat digebyur air, badan langsung adem. Tak lupa juga saya selalu menghitung berapa banyak saya sudah minum. lebih baik bolak balik ke kamar kecil daripada saya terkena heatwave. Brace yourself! still 1 more month until the summer end.

Tadabbur Surat Al-Muzzamil

Surat Nun adalah surat yang berisi hiburan kepada Rasulullah.

Tujuan utama Allah menurunkan surat ini kepada Rasulullah yakni sebagai peringatan bahwa setelah ini akan ada cobaan yang lebih berat.

Ayat 1:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ

Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!

Yang sedang berselimut yakni Rasulullah. Terdapat surat yg sama maknanya yakni Al-Muddatsir.

Ayat 2:
قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا

Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil,

Salat malam adalah bekal dari Allah untuk Rasulullah agar makin kuat menghadapi cobaan dalam penyebaran dakwah.

Bangun di malam hari sebenarnya bisa kita kontrol. Sekali seorang bisa mengontrol hawa nafsunya sehingga dapat bangun untuk solat malam, maka insya Allah dia bisa mengendalikan hawa nafsunya di hal apa saja.

Ayat 3:
نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا

(yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu,

Sebelumnya salat malam yakni diwajibkan bangun semalaman (salat
sepanjang malam) untuk salat dan hanya sedikit tidurnya.

Kemudian dikurangi menjadi separuh malam untuk salat dan separuhnya untuk tidur.

Kemudian akhirnya dikurangi menjadi 1/3 malam salat dan 2/3 malam untuj tidur.

Ayat 4:
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.

Tidak ada yang memburu kita dalam membaca Al-Quran maka perlahanlah agar dapat meresapi maknanya.

Bagaimanapun sayangnya kita dengan anggota keluarga, kita tetap tak dapat menemaninya di alam kubur. Yang akan menjadi teman kita adalah amal-amal kita sebagai bekal di akhirat.

Ujian-ujian kecil dalam belajar agama, adalah cobaan yang tidak boleh membuat kita mundur. Ingatlah permohonan kita dalam setiap salat ‘ihdinassirotolmustaqiem’. Sebuah doa yang sangat berat bebannya karena meminta petunjuk Allah selalu selama hidup di dunia.

Salat Qiyamul Lail diwajibkan terlebih dahulu sebelum munculnya kewajiban shalat 5 waktu.

Ayat 5:
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu.

Salah satu hikmah Qiyamul Lail yaitu membuat ucapan kita lebih berbobot, merasuk ke hati lawan bicara. Perkataan yang berat yang dimaksud antara lain berupa:
– perintah Allah
misalnya perintah untuk berhenti minum khamar. Sebagai hamba sudah sepatutnya kita menjalankan segala perintah Allah. Samina waathoqna.

– ancaman Allah

Ayat 6:
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan.

Ayat 7:
إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا

Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang.

Ayat 8:
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.

Ayat 9:
رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا

(Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung.

Ayat 10:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.

Ayat 11:
وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلًا

Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan berilah mereka penangguhan sebentar.

Kita hendaknya senantiasa bersyukur. Meski mungkin selama hidup di dunia banyak kesusahan yang kita alami, kita harus ingat hidup ini hanya sementara. Tujuan kita yakni akhirat. Ayat-ayat selanjutnya yakni ayat 12-19 menjelaskan betapa pedih siksa Allah di akhirat jika kita lalai selama di dunia.

Ayat 20:
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an; Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Ayat ini turun di Madinah.

Al-Isra:79
Janji Allah jika kita menjadikan tahajud sebagai ibadah tambahan.

Fadhillah membaca doa sesudah wudu:
Dibukakan 8 pintu surga dan kita dipersilahkan memilih masuk dari pintu mana saja.