Funin Chiryou – 3rd Trial (5 of 8)

Nota pembayaran setiap cycle yang saya simpan

TLDR:

Obat yang diresepkan:

  1. Obat minum: Clomiphene Citrate (Clomid) 100 mg, 10 tablet (@50mg) diminum sehari 2 tablet hari ke 5-9 dari HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir), untuk merangsang pertumbuhan folikel telur. Kemudian dilanjutkan Clomid 50 mg, 5 tablet, diminum hari ke 10-14 HPHT.
  2. Suntik: HMG 75 IU sebanyak 3  kali dan HMG 150 IU sebanyak 2 kali.
  3. Obat minum: Sofia 100 mg, 10 tablet untuk merangsang datangnya haid (di akhir siklus).

Jangka waktu pengobatan: 25 hari

Bulan Mei ini dimulai lagi lah ikhtiar kami untuk mendapatkan buah hati. Hati ini sudah cukup tangguh lagi untuk diajak berjuang. Semua pasrah dan ikhlas karena Allah. Sesuai obrolan sebelumnya, saya mengira kali ini dokter akan mengganti obat dengan obat merk lain dan juga meningkatkan dosis suntikan. Akan tetapi ternyata masih diresepkan jenis dan dosis yang sama dengan bulan lalu. Bertanyalah saya kapan akan disuntik, kemudian beliau bilang setelah obat ini habis.

Sebenarnya saya masih bertanya-tanya mengapa dosis yang diberikan sama. Bukankah dengan begitu akan mendapatkan hasil yang sama seperti bulan lalu? Tapi baiklah saya coba percaya saja dengan bu dokter. Setelah dosis obat Clomid 100 mg untuk 5 hari habis, saya kembali ke dokter. Seperti sudah diduga, belum ada folikel telur yang cukup besar. Kemudian diresepkan lagi dengan Clomid 50 mg untuk 5 hari. Baiklah sabar, sabar, percaya bahwa dokter sudah mempertimbangkan tahapan pengobatan ini.

Saya sempat bertanya mengapa ada penambahan dosis jika memang Clomid 100 mg kemarin belum berefek apapun. Akhirnya saya mencari tahu jurnal medis terkait dan jawabannya ada di sini. Secara singkat dari jurnal ini dijelaskan penelitian bahwa ditemukan hasil yang lebih baik (penurunan waktu yang diperlukan untuk dapat ovulasi dan juga meningkatkan tingkat keberhasilan ovulasi) pada pemberian obat Clomid berkelanjutan (dalam jurnal tersebut disebut dengan istilah stair-step protocol) jika dibandingkan dengan traditional protocol yakni pemberian obat Clomid hanya dalam jangka waktu 5 hari.

Setelah obat habis, saya kembali lagi ke dokter (Kalau membaca cerita saya pasti tahu berapa kali harus bolak balik dokter dalam ikhtiar ini, terkadang lelah, namun tetap harus semangat karena ini bagian dari ikhtiar yang dapat saya usahakan). Si folikel telur masih bandel juga. Dalam hati saya berkata ‘yaiyalah kan sama kaya bulan lalu. Kenapa masih dilakukan yang sama kalau hasil tidak sesuai harapan?’. Emosi cukup naik saat itu namun saya coba tahan. Kemudian seperti yang sudah-sudah, pengobatan dilanjutkan dengan suntikan.

Nah saat disuntik saya melihat obat yang diresepkan bukan Gonal-F. Melainkan HMG. Sebelumnya saya pernah disuntik obat ini dan hasilnya pun tak membahagiakan. Akhirnya saya memberanikan bertanya ke suster (Bahasa Jepang benar-benar diasah kali ini karena mau tak mau harus bisa menegosiasi) kenapa obat ini yang diberi, bukankah sudah pernah. Bukankah ini malah menjadi mundur lagi ke treatment sebelumnya, sedangkan saat menggunakan Gonal-F cukup baik efeknya? Suster akhirnya mengecek database dan mengiyakan memang kali ini obatnya diganti. Namun tak menjawab rasa penasaran saya. Setelah disuntik, saya keluar dengan muka kesal karena merasa klinik ini tidak cukup informatif kepada pasiennya.

Jadi sama juga kok setiap dokter juga ada karakter masing-masing. Tidak semuanya komunikatif dengan pasien. Apalagi sistem RS di Jepang rata-rata menerapkan rotasi dokter, jadi hari apa yang kita pilih untuk konsul, dokter praktik hari itulah yang akan menangani. Salah satu tujuannya untuk memastikan tidak ada bias penilaian karena beberapa dokter menganalisis pasien yang sama. Tak lama si suster menghampiri kemudian megatakan obatnya diganti karena Gonal-F tidak terlalu berefek pada saya. Langsunglah saya jawab ‘loh HMG juga pernah saya pakai dan tidak berefek sebelumnya. Bukankah ini jadinya mundur lagi tahapannya?’. Kasihan sih susternya, jadi kena semprot. Tapi mungkin ini salah satu wujud frustasi saya yang merasa seolah progress yang sangat lambat dalam treatment selama 3 bulan ini (Manusia oh manusia memang harus banyak belajar sabar T-T)

Akhirnya suster menawarkan untuk ketemu lagi dengan bu dokter. Bu dokter hanya berkata singkat karena dosis obat minum kali ini berbeda, mungkin saja dampak obat suntik akan berbeda. Saya rasanya sudah habis kesabaran. Kenapa beliau tidak menjelaskan di awal akan mengganti obat. Sehingga saya bisa mengerti apa yang sedang saya jalani? Kebanyakan pasien bukankah merasa tidak nyaman jika hanya diberi obat tanpa tahu apa dan kenapa kondisi yang terjadi dalam tubuhnya.

Hati saya sudah sangat kesal. Meninggalkan ruang praktik dokter dengan wajah berlipat. Rasanya sangat kesal dan ingin pindah klinik agar dapat bertemu dokter yang kooperatif. Akhir minggu saya mendapat jadwal kontrol lagi dan kali ini suami dapat mendampingi. Sebelumnya sudah saya tuliskan pertanyaan yang mau saya tanyakan agar mendapat kejelasan mengenai kondisi saya saat ini. Pak suami membantu membenarkan beberapa grammar agar bahasa Jepang saya mudah dimengerti. Iya inilah salah satu tantangan teknis berobat di Jepang. Kebanyakan tidak bisa bahasa Inggris jadi harus berusaha berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Ada suatu saat saya belajar kosakata kedokteran dalam bahasa Jepang karena memang diperlukan untuk mengerti penjelasan dokter. Silver lining! Ini salah satu dari sekian banyak sisi positif yang bisa saya petik dari episode hidup saya ini. Yakni belajar bahasa Jepang dengan lebih giat lagi.

Beberapa istilah yang umumnya dipakai selama konsultasi saya di sini  yang mungkin bisa bermanfaat bagi teman-teman yang berniat berobat di Jepang:

  • 排卵       hairan                                   ovulasi
  • 卵胞                 ranpou                                 folikel telur
  • 卵胞の成熟 ranpou no seijyuku        pematangan sel telur
  • 支給                 shikyuu                               uterus
  • 支給内膜         shikyuunaimaku             endometrium
  • 下垂体             kasuitai                               kelenjar pituitari
  • 黄体期             outaiki                                 fase luteal
  • 発育                 hatsuiku                              development

Bu dokter kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Beliau akhirnya menjelaskan secara rinci mengapa hingga saat ini pengobatan tampak sedikit sekali peningkatan dosis dari segi obat. Beliau mengatakan hal ini bertujuan untuk menghindari resiko OHSS yakni kondisi ovarium yang over-stimulasi dan dapat berbahaya. Jika pada kebanyakan wanita akan mampu memilih satu telur untuk berovulasi setiap bulannya, pada saya berbeda karena justru ada beberapa yang tumbuh bersamaan sehingga sulit mencapai ukuran maksimal. Dampak pemberian obatpun sama, tubuh saya membagi dampaknya sama rata sehingga tidak ada satu telur yang dominan. Memang kuncinya harus sabar.

Hal di atas adalah salah satu ciri khas pada wanita dengan PCOS. PCOS adalah nama karakteristik yang saya miliki. Mengapa saya sebut dengan karakteristik? karena memang ini adalah karakter yang saya miliki dan tidak ada obatnya. Karakter ini akan menyertai seumur hidup saya. Yang dapat saya lakukan yakni mengontrol gaya hidup, pola makan, dan juga berolahraga agar dapat menekan faktor-faktor yang dapat memperburuk kondisi ovarium karena PCOS ini. Maka dari itu jika PCOS disebut penyakit pun kurang tepat. Kalau penyakit maka biasanya tentu ada obatnya, nah PCOS ini sendiri ditekan dominasinya dalam tubuh dengan cara-cara yang saya sebutkan sebelumnya. PCOS (polycystic ovary syndrome) atau sindrom ovarium polikistik merupakan kondisi terganggunya fungsi ovarium pada wanita yang berada di usia subur. Kondisi ini menyebabkan hormon wanita yang menderita PCOS menjadi tidak seimbang karena hal-hal yang tidak diketahui.

Tanda-tanda awal PCOS adalah masa ovulasi atau subur yang tidak beraturan, meningkatnya kadar hormon pria (androgen) dalam tubuh wanita, dan jumlah bakal folikel telur yang banyak dan kecil-kecil di ovarium. Jadi jika ada yang menyamakan dengan kista, sebenarnya istilah ini kurang tepat. Karena sebenarnya bulatan kecil yang terlihat saat USG di ovarium merupakan bakal folikel telur yang belum matang. Proses pematangannya memerlukan bantuan rangasangan obat hormon dari luar sehingga nantinya akan terdapat satu folikel telur yang matang.

Setelah beberapa kali dosis suntikan HMG, kali ini kembali hasil yang didapat sama seperti bulan-bulan sebelumnya yakni ukuran folikel telur belum mencapai ukuran minimal agar dapat ovulasi. Bagaimana perasaan saya? Sedihkah? Patah hati kah? Alhamdulillah saya bisa mengatakan bahwa kali ini rasa sedih dan patah hati sudah berkurang. Apalagi jika saya mengingat bulan puasa kemarin saya betul-betul vakum berolahraga dan juga asupan makanan manis mungkin sedikit lebih banyak dibanding bulan sebelumnya.

Inilah yang saya fokuskan untuk menyongsong siklus berikutnya: merutinkan olahraga, mengurangi asupan karbohidrat dan gula, dan menambah jumlah asupan sayur dan buah. Fokus utama yakni meningkatkan kualitas hidup dengan 3 langkah tadi. Hasil akhir tentu tak bisa saya kontrol, namun saya dapat mengontrol asupan gizi dan juga kualitas stamina diri. Harapannya dengan meningkatkan kedua hal tersebut, hasil akhir yang baik akan mengikuti. Teriring juga doa agar Allah mengabulkan keinginan hambaNya ini di waktu yang tepat, waktu yang terbaik.

Sebagai penutup siklus ini, ibu dokter memberikan obat minum untuk membantu menstruasi. Berbeda dari sebelumnya yang biasanya menggunakan obat suntik. Kali ini saya harus disiplin meminum obat 10 hari ke depan. Semoga siklus berikutnya mendapatkan peningkatan yang berarti. Fight!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.